Tuesday, January 31, 2006

Kau satu lukisan yang tak pernah lekang...

Diantara begitu beraneka musik yang mengalun di telinga, lagu tentangmu tak pernah henti membahana. Mengusik jauh ke dasar kedalamanku yang bahkan aku sendiri pun tak pernah mampu menjamah. Lagumu selalu saja mengalirkan denting-denting yang bahkan ketika kusumbat telingaku rapat-rapat, pun masih saja terdengar lekat. Karena getarmu bukan saja mengaliri udara sekitarku, tapi merasuk di sekujur pori-pori kesadaranku. Menggetari relung hatiku, dimana kian ke dasar kian menyeruak gemanya.

Dan diantara lukisan-lukisan bayang yang kuhempaskan ke dasar jurang ingatan, di tempat mana kumusnahkan ribuan kenangan yang tak lagi ingin kusimpan, lukisan tentangmu tak pernah lekang meski kuendapkan sejuta keinginan untuk melupakan. Kau, dengan wajah mana dulu kerap kulekatkan telapak tanganku meresapi kelembutannya... sorot matamu, di tatap mana seringkali kulabuhkan pandanganku... senyummu, di bias mana kurebahkan resah dan gundah menjadi kelegaan tak membuncah... dan kuning langsat kulitmu, dengan bulu-bulu halus padanya sering kali jari-jemariku menari menyentuh-resapi perlahan seakan waktu pun semerta berhenti... tak pernah sekalipun mampu kuenyahkan. Ribuan kali jarum waktu berlari membenamkan segala tentang wajahmu, kau masih saja ada disana... abadi dan asri lestari. Tak sekalipun rindu terusik pergi.

Diantara debu dan segala pernak pernik yang berubah menjadi usang seiring waktu yang terbuang, selembar lukisan tentangmu, semerta hadir menghidupkan lagi getar yang sempat kuendapkan dan melemah hampir mati. Dulu dan hari ini tak pernah berbeda, aku tak mampu memusnahkannya. Seberapa besar pun keinginanku untuk seketika merobeknya, sesuatu mendekap erat dan mengikat jari-jariku seketika kaku tak berdaya. Bergetar tak terhingga. Aku tak mampu. Aku tak bisa.

Kau satu lukisan yang tak pernah lekang, tak pernah mampu kubuang.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home