Tuesday, January 31, 2006

dialog langit dan laut biru

Suatu ketika, di tengah kesibukannya mewarnai hari, laut dan langit kembali bertemu di percakapan yang sepi.

laut tenang meriak, dan langit biru semarak...

ocean:

(keluh)
laut selamanya akan menjadi laut
dan kau selamanya akan menjadi langitku
dan ketika laut memandang langit
selamanya dia akan menyimpan rindu kepadanya

rasanya aku belum pernah menggunakan analogi langit
seperti aku melukiskan kamu, blue sky.. i never did

blue sky:

kamu itu keindahan, sayang
kamu itu adalah ketenangan
kamu kedamaian yg aku inginkan
itulah kamu

ocean:

lalu kenapa kau tak mengambilku?
ambillah, bawalah aku ke langitmu.


hm, i'm glad aku menggunakan kata itu cuma untuk kamu.
kau langitku.

blue sky:
and u are my ocean.
justru karena kau lautan, aku tak mungkin bisa memilikimu.
kau milik bibir pantai yang setia menantimu
kau milik pulau-pulau yang selalu kau rengkuh

ocean:

dan kau milik ketinggian yang hakiki
kau yang selalu mendekap matahari
kau berteman awan-awan tak mungkin hidup tanpamu

hm, barangkali tempatmu terlalu tinggi
tak ada yang bisa kutawarkan padamu
selain riak-riak kecil untuk kau arungi
yang akan mengayun dan meninabobokanmu,
ketika kau gemuruh

turunlah, kapanpun kau mau memelukku..
kapanpun kau menginginkanku.

blue sky:

yang kumiliki hanya biru
tentang keinginan yang menggebu
tentang segala rasa yang serupa dengan birumu

dan aku hanya bisa memelukmu
lewat butir-butir yang bergumul menjadi awan kelabu
hanya dengan itu kita menjadi dekat
dan selamanya di cakrawala kita melekat..


dan percakapan siang itu terputus
ketika riak-riak menyenyap
matahari pergi meninggalkan gelap
langit dan laut kembali sepi
menanti esok hari

0 Comments:

Post a Comment

<< Home