Wednesday, February 25, 2004

hari ini tanggal 25

hari ini aku mengingatmu. selalu, setiap kali angka itu bertalu, pikiran dan ingatanku menuju tentangmu. pedih. karena aku cuma bisa mengingatnya kini. pedih. karena aku tahu kita sama-sama mengingatnya. pedih. karena kita tak lagi bisa bicara. pedih. rindu ini menggugatku.

tapi aku tahu ini akan terjadi. dan luka ini akan terus menggores. dari waktu ke waktu, tiap kali kita melintasi kenangan yang terjadi pada hari itu, tanggal itu, yang dulu kita jadikan tugu abadi tiap kali sebulan terlewati

hari ini aku mengingatmu dengan kepedihan. aku rindu. setengah mati aku menginginkanmu. setengah mati aku menahan diri untuk tak lagi mengungkit kisah lama. kita memang tak pernah menyepakati, untuk menyimpannya dalam peti mati. dan menguburkannya dalam-dalam di kegelapan ingatan kita. tidak. kita tak pernah melakukan itu.

hari ini aku ingin kau tahu aku mengingatmu. tapi tidak. aku tak bisa lagi menghancurkan kubah-kubah kehidupan kita yang berbeda yang telah kita bangun masing-masing. kau dan hidupmu. aku dan kehidupanku. kau dan kebahagiaanmu. aku dan kesepianku.

kepedihan ini abadi, memang. sepasti waktu yang terus berulang. sepasti matahari tanggal 25 yang selalu kujelang. seperti roda kehidupan yang terus pergi dan datang. lukaku sembilu. aku meradang. tak apa. aku tlah terbiasa. seperti kesepian dan kematian yang kini kuakrabi, aku akan sendiri. tanpamu. karena aku harus menyelami kehidupanku saat ini, dimana seseorang memilikiku. mutlak.

hari ini tanggal 25. kuharap mentari segera sirna. aku ingin tidur dan melupakan semua.


25 Februari 2004