Friday, November 21, 2003

dalam sepi

aku terjaga seorang diri
semua diam.
semua bungkam.
angin pun mendesau parau hampir mati.
tak ada yang bergerak!
kecuali rinduku yang memekik serak...
aku membutuhkanmu!!!

dalam sepi,
yang kurasa jiwaku menggeliat
ingin melepas ini belenggu rindu.
sukmaku tergugu bergetar
ingin memelukmu begitu besar...
mata pun enggan memejam
aku gusar! gelisah tak sabar.
ingin kupacu mentari meninggi,
menenggak waktu demi waktu yang lambat
dan bergegas menuju hari yang kunanti
ketika kita bertemu lagi.

dalam sepi,
hening mengajariku tentang berartinya kamu
menyadarkanku betapa tanpamu,
adalah sama saja tak berarti.
rindu melecut cintaku bangkit, berdiri...
dan tergesa berlari.
mencari bayangmu!
menuju rupamu!

dalam sepi,
hatiku riuh rendah bernyanyi
menyebut namamu adalah kesedihan,
ketika kau tak disisiku, menemani.




Semarang,
21 November 2003, 02.00wib

Thursday, November 20, 2003

kau lah segalanya

andai dapat kukatakan ini kepadamu;
tentang tak ada keinginanku selain bermuara di keluasanmu
seperti air yang mengikuti takdir mengalir
mengisi bentangan lautan:
tak berakhiran
tak berkesudahan

atau tentang naluri yang membawaku kembali
menekuri rautmu, sukmamu, seluruhmu
dan meleburkan diri di kedamaian yang kau tawarkan
tenggelam dalam ke-kita-an yang hakiki
dalam, tak berdasar..
tak usai berhitung waktu

andai dapat kukatakan ini kepadamu;
tepat ketika tatap kita lekat
tanpa bicara
tanpa kata

kaulah segalanya!

Wednesday, November 19, 2003

kau

bilur-bilur surya pun tampak kalah cerah
dibanding wajahmu yang sumringah

Tuesday, November 18, 2003

sebuah catatan pagi

untuk AJ Moniques...


bisakah kita memisahkan impian, khayalan dengan kenyataan? mungkinkan kita hidup hanya dalam kenyataan tak peduli terkadang pahit ada kalanya manis, dan mengabaikan impian yang tak pernah diundang sedang mimpi itu sering menjadi kebahagiaan buat kita, atau menolak khayalan yang karenanya padanya hidup menjadi makin berarti?

seringkali aku tak mampu memisahkan ketiganya, atau kadang aku tak peduli untuk menikmati impian, khayalan dan kenyataan sekaligus. meski kadang khayalan pahit ketika terbentur kenyataan.

adalah kenyataan di diriku kini tumbuh cinta untuk kutaburi padamu. cinta yang semula ada dalam khayalan kita, kini makin kabur dari batas-batas yang kita sepakati bersama dan membuncah, menguasai kesadara kita dan hidup dalam kenyataan kesadaran kita. dan kenyataan ini menghias mimpi-mimpiku menjadi tentangmu. mimpiku adalah bersamamu. mimpiku adalah memelukmu, adalah mendekapmu, menatap wajahmu, menyentuhmu... impian bahwa kau ada dihadapanku, nyata dijangakauanku. tak sirna sebagaimana mimpi yang terpenggal waktu ketika terjaga...

tapi adalah kenyataan bahwa aku harus menyimpan khayalanku tak lebih dari sekedar mimpi-mimpi, karena kenyataan menitahkanku. kenyataan melarangku. khayalan menertawakanku. kenyataan tak bisa kupungkiri bahwa cinta bagiku, bagimu, bagi kita... cinta yang kita punya, yang kita rasa, adalah akan lebih subur tumbuh dalam khayalan-khayalan dan impian kita. kenyataan hanya akan menjadi vonis kematian bagi rindu kita yang baru saja tersemai. ladang bagi cinta kita adalah impian. meski rindu yang tumbuh menyemai adalah kenyataan. perasaan hangat, debar, getar, yang hadir tiap kali kusebutkan namamu, adalah juga kenyataan yang turut menyuburkan khayalan-khayalanku. cinta adalah kenyataan bagiku. dan menaburimu dengan cintaku adalah impian berjutaku, khayalan terindahku.

aku tak tahu kapan akhirnya aku terbelenggu dengan semuanya, kenyataan, khayalan atau impian-impianku dan mengaburkan semua batas-batas yang jelas awalnya.

aku tak tahu dibagian mana aku lebih menyukai untuk hidup lebih lama. apakah menerima kenyataan sebagai tuan yang menguasai benakku, atau membiarkan khayalan dan impian melambungkanku jauh ke mega-mega, bersamamu.

ketiganya hidup dan menghidupiku.
kesemuanya membuatku lengkap.

diatas semuanya, aku tak ingin ingkar pada hati dan perasaanku.
aku mencintaimu, tumbuh apa adanya...

(episode ditengah hamparan bintang)

Semalam, sebelum aku tidur

Sebuah catatan kerinduan:
untuk AJ Moniques

Rindu.
Belenggu.
Kuterikat.

Aku, kau.
diantara kita terbentang jarak.
Kita dekat.

Bayangmu, pikiranku, semua lekat.
Kau aku, satu.
di rinduku,
di sendiriku,
di diamku,
di gelapku,
menyatu kau
menyatu aku
dalam rindu. Satu.



18 November 2003

Sunday, November 16, 2003

Tentang Kita

perumpamaan aku dan kau
adalah lautan dan langit
sama-sama luas sama-sama biru
sama-sama bertabur rindu

jarak diantara kita begitu jauh
aku sibuk dengan riak dan gejolak
dan kau sibuk dengan awan gemawan
tapi birunya kita bertaut di batas cakrawala
hati kita bertaut dikesamaan rasa

adakah kata yang tepat untuk kita?
tentang aku dan kau
jika rindu selalu bicara
tapi batas diantara kita begitu nyata?
cinta bagiku ada,
begitu nyata...

sinar mata mu

tak ada yang kuharapkan ketika membahagiakanmu
selain pancaran sinar matamu yang bahagia

karena itulah saat kebahagiaanku!

Monday, November 10, 2003

tanpa judul

kita bukanlah bibir pantai dengan ombaknya
yang hanya tahu bercumbu
berpeluk syahdu tak kenal masa

kita hanyalah kidung kesepian
kerinduan abadi sepasang kekasih
bumiku dan langitmu

tatapan mesra diantara kita begitu lekat
kau mewarnai lautan hatiku
dan kutaburi keluasan hatimu
yang kita punya warna yang sama
cinta yang biru...

yang kulihat dilangit hatimu
adalah desau kerinduan yg perih
tak terjangkau
tak terbasuhkan

tapi sebagaimana abadinya waktu
kita akan saling bersapa bertatap mesra
kau, aku, dengan bahasa rindu yang sama
yang cuma kita bisa mengenali
yang abadi...

oh, ya... itu yang terjadi!
karena cinta tak selamanya harus saling memiliki